|
PSIKOLOGI PENDIDIKAN
A. Pendahuluan
Psikologi pendidikan
adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang
berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan
yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar (Whiterington, 1982:10).
Dari batasan di atas terlihat adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi
pendidikan dengan tindakan belajar. Karena
itu, tidak mengherankan apabila beberapa ahli psikologi pendidikan
menyebutkan bahwa lapangan utama studi psikologi pendidikan adalah soal
belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada
persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang
berhubungan dengan tindakan belajar.
Karena konsentrasinya pada persoalan belajar, yakni
persoalan-persoalan yang senantiasa melekat pada subjek didik, maka konsumen
utama psikologi pendidikan ini pada umumnya adalah pada pendidik. Mereka
memang dituntut untuk menguasai bidang ilmu ini agar mereka, dalam
menjalankan fungsinya, dapat menciptakan kondisi-kondisi yang memiliki daya
dorong yang besar terhadap berlangsungnya tindakan-tindakan belajar secara
efektif.
B. Mendorong Tindakan Belajar
Pada umumnya orang beranggapan bahwa pendidik adalah sosok yang memiliki
sejumlah besar pengetahuan tertentu, dan berkewajiban menyebarluaskannya
kepada orang lain. Demikian juga, subjek didik sering dipersepsikan sebagai
sosok yang bertugas mengkonsumsi informasi-informasi dan pengetahuan yang
disampaikan pendidik. Semakin banyak informasi pengetahuan yang mereka serap
atau simpan semakin baik nilai yang mereka peroleh, dan akan semakin besar
pula pengakuan yag mereka dapatkan sebagai individu terdidik.
Anggapan-anggapan seperti ini, meskipun sudah
berusia cukup tua, tidak dapat dipertahankan lagi. Fungsi pendidik menjejalkan
informasi pengetahuan sebanyak-banyakya kepada subjek didik dan fungsi subjek
didik menyerap dan mengingat-ingat keseluruhan informasi itu, semakin
tidak relevan lagi mengingat bahwa pengetahuan itu sendiri adalah sesuatu
yang dinamis dan tidak terbatas. Dengan kata lain, pengetahuan-pengetahuan
(yang dalam perasaan dan pikiran manusia dapat dihimpun) hanya bersifat
sementara dan berubah-ubah, tidak mutlak (Goble, 1987 : 46). Gugus
pengetahuan yang dikuasai dan disebarluaskan saat ini, secara relatif,
mungkin hanya berfungsi untuk saat ini, dan tidak untuk masa lima hingga
sepuluh tahun ke depan. Karena itu, tidak banyak artinya menjejalkan
informasi pengetahuan kepada subjek didik, apalagi bila hal itu terlepas dari
konteks pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.
Namun demikian bukan berarti fungsi traidisional
pendidik untuk menyebarkan informasi pengetahuan harus dipupuskan sama
sekali. Fungsi ini, dalam batas-batas tertentu, perlu dipertahankan, tetapi
harus dikombinasikan dengan fungsi-fungsi sosial yang lebih luas, yakni
membantu subjek didik untuk memadukan informasi-informasi yang terpecah-pecah
dan tersebar ke dalam satu falsafah yang utuh. Dengan kata lain dapat
diungkapkan bahwa menjadi seorang pendidik dewasa ini berarti juga menjadi
“penengah” di dalam perjumpaan antara subjek didik dengan himpunan informasi
faktual yang setiap hari mengepung kehidupan mereka.
Sebagai penengah, pendidik harus mengetahui dimana
letak sumber-sumber informasi pengetahuan tertentu dan mengatur mekanisme
perolehannya apabila sewaktu-waktu diperlukan oleh subjek didik.Dengan
perolehan informasi pengetahuan tersebut, pendidik membantu subjek didik
untuk mengembangkan kemampuannya mereaksi dunia sekitarnya. Pada momentum
inilah tindakan belajar dalam pengertian yang sesungguhya terjadi, yakni
ketika subjek didik belajar mengkaji kemampuannya secara realistis dan
menerapkannya untuk mencapai kebutuhan-kebutuhannya.
Dari deskripsi di atas terlihat bahwa indikator dari
satu tindakan belajar yang berhasil adalah : bila subjek didik telah
mengembangkan kemampuannya sendiri. Lebih jauh lagi, bila subjek didik
berhasil menemukan dirinya sendiri ; menjadi dirinya sendiri. Faure (1972)
menyebutnya sebagai “learning to be”.
Adalah tugas pendidik untuk menciptakan kondisi yang
kondusif bagi berlangsungnya tindakan belajar secara efektif. Kondisi yang
kondusif itu tentu lebih dari sekedar memberikan penjelasan tentang hal-hal
yang termuat di dalam buku teks, melainkan mendorong, memberikan inspirasi,
memberikan motif-motif dan membantu subjek didik dalam upaya mereka mencapai
tujuan-tujuan yang diinginkan (Whiteherington, 1982:77). Inilah fungsi
motivator, inspirator dan fasilitator dari seorang pendidik.
C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar
Agar fungsi pendidik sebagai
motivator, inspirator dan fasilitator dapat dilakonkan dengan baik, maka
pendidik perlu memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses dan
hasil belajar subjek didik. Faktor-faktor itu lazim dikelompokkan atas dua
bahagian, masing-masing faktor fisiologis dan faktor psikologis (Depdikbud,
1985 :11).
1. Faktor Fisiologis
Faktor-faktor fisiologis ini mencakup
faktor material pembelajaran, faktor lingkungan, faktor instrumental dan
faktor kondisi individual subjek didik.Material pembelajaran turut menentukan
bagaimana proses dan hasil belajar yang akan dicapai subjek didik. Karena
itu, penting bagi pendidik untuk mempertimbangkan kesesuaian material
pembelajaran dengan tingkat kemampuan subjek didik ; juga melakukan gradasi
material pembelajaran dari tingkat yang paling sederhana ke tingkat lebih
kompeks.
Faktor lingkungan, yang meliputi lingkungan
alam dan lingkungan sosial, juga perlu mendapat perhatian. Belajar dalam
kondisi alam yang segar selalu lebih efektif dari pada sebaliknya. Demikian
pula, belajar padapagi hari selalu memberikan hasil yang lebih baik dari pada
sore hari. Sementara itu, lingkungan sosial yang hiruk pikuk, terlalu ramai,
juga kurang kondisif bagi proses dan pencapaian hasil belajar yang optimal.
Yang tak kalah pentingnya untuk
dipahami adalah faktor-faktor instrumental, baik yang tergolong perangkat
keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Perangkat
keras seperti perlangkapan belajar, alat praktikum, buku teks dan sebagainya
sangat berperan sebagai sarana pencapaian tujuan belajar. Karenanya, pendidik
harus memahami dan mampu mendayagunakan faktor-faktor instrumental ini
seoptimal mungkin demi efektifitas pencapaian tujuan-tujuan belajar.
Faktor fisiologis lainnya yang berpengaruh terhadap
proses dan hasil belajar adalah kondisi individual subjek didik sendiri.
Termasuk ke dalam faktor ini adalah kesegaran jasmani dan kesehatan indra.
Subjek didik yang berada dalam kondisi jasmani yang kurang segar tidak akan
memiliki kesiapan yang memadai untuk memulai tindakan belajar.
2. Faktor Psikologis
Faktor-faktor psikologis
yang berpengaruh terhadap proses dan hasil
belajar
jumlahnya banyak sekali,
dan masing-masingnya tidak dapat dibahas secara
terpisah.
Perilaku individu, termasuk perilaku belajar,
merupakan totalitas penghayatan dan aktivitas yang lahir sebagai hasil akhir
saling pengaruh antara berbagai gejala, seperti perhatian, pengamatan,
ingatan, pikiran dan motif.
2.1.
Perhatian
Tentulah dapat diterima bahwa subjek
didik yang memberikan perhatian intensif dalam belajar akan memetik hasil
yang lebih baik. Perhatian intensif ditandai oleh besarnya kesadaran yang
menyertai aktivitas belajar. Perhatian intensif subjek didik ini dapat
dieksloatasi sedemikian rupa melalui strategi pembelajaran tertentu, seperti
menyediakan material pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan subjek didik,
menyajikan material pembelajaran dengan teknik-teknik yang bervariasi dan
kreatif, seperti bermain peran (role playing), debat dan sebagainya.
Strategi pemebelajaran seperti ini juga dapat
memancing perhatian yang spontan dari subjek didik. Perhatian yang spontan
dimaksudkan adalah perhatian yang tidak disengaja, alamiah, yang muncul dari
dorongan-dorongan instingtif untuk mengetahui sesuatu, seperti kecendrungan
untuk mengetahui apa yang terjadi di sebalik keributan di samping rumah, dan
lain-lain. Beberapa hasil penelitian psikologi menunjukkan bahwa perhatian
spontan cendrung menghasilkan ingatan yang lebih lama dan intensif dari pada
perhatian yang disengaja.
2.2. Pengamatan
Pengamatan adalah cara pengenalan dunia
oleh subjek didik melalui penglihatan, pendengaran, perabaan, pembauan dan
pengecapan. Pengamatan merupakan gerbang bai masuknya pengaruh dari luar ke
dalam individu subjek didik, dan karena itu pengamatan penting artinya bagi
pembelajaran.
Untuk kepentingan pengaturan proses
pembelajaran, para pendidik perlu memahami keseluruhan modalitas pengamatan
tersebut, dan menetapkan secara analitis manakah di antara unsur-unsur
modalitas pengamatan itu yang paling dominan peranannya dalam proses belajar.
Kalangan psikologi tampaknya menyepakati bahwa unsur lainnya dalam proses
belajar. Dengan kata lain, perolehan informasi pengetahuan oleh subjek didik
lebih banyak dilakukan melalui penglihatan dan pendengaran.
Jika demikian, para pendidik perlu mempertimbangkan
penampilan alat-alat peraga di dalam penyajian material pembelajaran yang
dapat merangsang optimalisasi daya penglihatan dan pendengaran subjek didik.
Alat peraga yang dapat digunakan, umpamanya ; bagan, chart, rekaman, slide
dan sebagainya.
2.3. Ingatan
Secara teoritis, ada 3 aspek yang
berkaitan dengan berfungsinya ingatan, yakni (1) menerima kesan, (2)
menyimpan kesan, dan (3) memproduksi kesan. Mungkin karena fungsi-fungsi
inilah, istilah “ingatan” selalu didefinisikan sebagai kecakapan untuk menerima,
menyimpan dan mereproduksi kesan.
Kecakapan merima kesan sangat sentral
peranannya dalam belajar. Melalui kecakapan inilah, subjek didik mampu
mengingat hal-hal yang dipelajarinya.
Dalam konteks pembelajaran, kecakapan
ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya teknik pembelajaran
yang digunakan pendidik. Teknik pembelajaran yang disertai dengan penampilan
bagan, ikhtisar dan sebagainya kesannya akan lebih dalam pada subjek didik.
Di samping itu, pengembangan teknik pembelajaran yang mendayagunakan “titian
ingatan” juga lebih mengesankan bagi subjek didik, terutama untuk material
pembelajaran berupa rumus-rumus atau urutan-urutan lambang tertentu. Contoh
kasus yang menarik adalah mengingat nama-nama kunci nada g (gudeg), d (dan),
a (ayam), b (bebek) dan sebagainya.
Hal lain dari ingatan adalah
kemampuan menyimpan kesan atau mengingat. Kemampuan ini tidak sama
kualitasnya pada setiap subjek didik. Namun demikian, ada hal yang umum
terjadi pada siapapun juga : bahwa segera setelah seseorang selesai melakukan
tindakan belajar, proses melupakan akan terjadi. Hal-hal yang dilupakan pada
awalnya berakumulasi dengan cepat, lalu kemudian berlangsung semakin lamban,
dan akhirnya sebagian hal akan tersisa dan tersimpan dalam ingatan untuk
waktu yang relatif lama.
Untuk mencapai proporsi yang memadai
untuk diingat, menurut kalangan psikolog pendidikan, subjek didik harus
mengulang-ulang hal yang dipelajari dalam jangka waktu yang tidak terlalu
lama. Implikasi pandangan ini dalam proses pembelajaran sedemikian rupa
sehingga memungkinkan bagi subjek didik untuk mengulang atau mengingat
kembali material pembelajaran yang telah dipelajarinya. Hal ini, misalnya,
dapat dilakukan melalui pemberian tes setelah satu submaterial pembelajaran
selesai.
Kemampuan resroduksi, yakni
pengaktifan atau prosesproduksi ulang hal-hal yang telah dipelajari, tidak
kalah menariknya untuk diperhatikan. Bagaimanapun, hal-hal yang telah
dipelajari, suatu saat, harus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan tertentu
subjek didik, misalnya kebutuhan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam
ujian ; atau untuk merespons tantangan-tangan dunia sekitar.
Pendidik dapat mempertajam kemampuan subjek didik
dalam hal ini melalui pemberian tugas-tugas mengikhtisarkan material
pembelajaran yang telah diberikan.
2.4. Berfikir
Definisi yang paling umum dari
berfikir adalah berkembangnya ide dan konsep (Bochenski, dalam Suriasumantri
(ed), 1983:52) di dalam diri seseorang. Perkembangan ide dan konsep ini
berlangsung melalui proses penjalinan hubungan antara bagian-bagian informasi
yang tersimpan di dalam didi seseorang yang berupa pengertian-perngertian.
Dari gambaran ini dapat dilihat bahwa berfikir pada dasarnya adalah proses
psikologis dengan tahapan-tahapan berikut : (1) pembentukan pengertian, (2) penjalinan
pengertian-pengertian, dan (3) penarikan kesimpulan.
Kemampuan berfikir pada manusia alamiah sifatnya.
Manusia yang lahir dalam keadaan normal akan dengan sendirinya memiliki
kemampuan ini dengan tingkat yang reletif berbeda. Jika demikian, yang perlu
diupayakan dalam proses pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan ini, dan
bukannya melemahkannya. Para pendidik yang memiliki kecendrungan untuk
memberikan penjelasan yang “selengkapnya” tentang satu material pembelajaran
akan cendrung melemahkan kemampuan subjek didik untuk berfikir. Sebaliknya,
para pendidik yang lebih memusatkan pembelajarannya pada pemberian
pengertian-pengertian atau konsep-konsep kunci yang fungsional akan mendorong
subjek didiknya mengembangkan kemampuan berfikir mereka. Pembelajaran seperti
ni akan menghadirkan tentangan psikologi bagi subjek didik untuk merumuskan
kesimpulan-kesimpulannya secara mandiri.
2.5. Motif
Motif adalah keadaan dalam diri
subjek didik yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu.
Motif boleh jadi timbul dari rangsangan luar, seperti pemberian hadiah bila
seseorang dapat menyelesaikan satu tugas dengan baik. Motif semacam ini
sering disebut motif ekstrensik. Tetapi tidak jarang pula motif tumbuh di
dalam diri subjek didik sendiri yang disebut motif intrinsik. Misalnya,
seorang subjek didik gemar membaca karena dia memang ingin mengetahui lebih
dalam tentang sesuatu.
Dalam konteks belajar, motif
intrinsik tentu selalu lebih baik, dan biasanya berjangka panjang. Tetapi
dalam keadaan motif intrinsik tidak cukup potensial pada subjek didik,
pendidik perlu menyiasati hadirnya motif-motif ekstrinsik. Motif ini,
umpamanya, bisa dihadirkan melalui penciptaan suasana kompetitif di antara
individu maupun kelompok subjek didik. Suasana ini akan mendorong subjek
didik untuk berjuang atau berlomba melebihi yang lain.Namun demikian,
pendidik harus memonitor suasana ini secara ketat agar tidak mengarah kepada
hal-hal yang negatif.
Motif ekstrinsik bisa juga dihadirkan
melalui siasat “self competition”, yakni menghadirkan grafik prestasi
individual subjek didik.Melalui grafik ini, setiap subjek didik dapat melihat
kemajuan-kemajuannya sendiri. Dan sekaligus membandingkannya dengan kemajuan
yang dicapai teman-temannya.Dengan melihat grafik ini, subjek didik akan
terdorong untuk meningkatkan prestasinya supaya tidak berada di bawah
prestasi orang lain.
|
Total Tayangan Halaman
Minggu, 15 Januari 2012
pisikolog pendidikan
Sabtu, 14 Januari 2012
Laporan Fisiologi Tumbuhan
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pada tanaman tingkat tinggi
berpembuluh yang tumbuh di permukaan bumi mempunyai peranan yang penting untuk
kehidupan makhluk hidup. Tumbuhan tersebut merupakan sumber makanan bagi
manusia dan ternak serta sumber penghasil oksigen di atmosfir untuk bernafas
dan sebagai penghasil serat bagi sandang, kayu untuk membuat rumah serta
obat-obatan yang gunanya untuk kesehatan bagi manusia.
Tanaman
tingkat tinggi yang berpembuluh tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan biologis
primer, tetapi banyak benda-benda lain yang di pergunakan oleh manusi untuk
kehidupan sehari-hari berasal dari tanaman tersebut. Pada tanaman tingkat
tinggi berpembuluh yaitu tanaman yang menghasilkan biji, seperti gymnospermae
dan angiospermae, yang termasuk bahan-bahan penting yang di hasilkan tanaman
seperti: kertas, karet, rempah-rempah serta yang beralkohol seperti: anggur,
bir, wiski, dan votka, serta ada juga yang tidak beralkohol seperti coklat,
kopi, dan teh. Tanaman tingkat tinggi dapat memenuhi kebutuhan kelangsungan
hidup manusia dan memperindah lingkungan fisik, oleh sebab itu tanaman tingkat
tinggi merupakan bagian yang terpenting dari kehidupan alam yang hijau ini.
1.2 Tujuan Percobaan
Adapun
tujuan percobaan dari prakyikum jaringan pengangkut air pada cabang bunga
alamanda adalah sebagai berikut.
Mengamati
dan mengetahui proses jaringan pengangkut air didalam tubuh tanaman cabang
bunga alamanda.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2. 1 Pengertian Jaringan Pengangkut
Jaringan
pengangkut tersusun dari sel-sel yang memiliki bentuk dan pungsi yang sama.
Pada tumbuhan dikenal dengan jaringan maristem atau jaringan embrional dan
jaringan permanen dewasa, jaringan maristem tersusun dari sel-sel yang selalu
membelah namun belum mengalami deferensiasi. Jaringan maristem terdapat
dibagian ujung akar dan ujung batang, sehingga pada bagian ini akan selalu
terjadi pertumbuhan. Daerah tempat pertumbuhan tersebut dinamakan titik tumbuh
primer. Aktifitas titik tumbuh primer menyebabkan pertumbuhan memanjang. Pada
tumbuhan dikotil, selain terdapat titik tumbuh primer juga terdapat tittik
tumbuh sekunder, yaitu pada bagian kambium. Aktifitas titik tumbuh sekunder
menyebabkan pertumbuhan membesar pada batang.
Jaringan permanen tersusun dari
sel-sel yang sudah tidak melakukan aktifitas membelah, namun jaringan ini
mengadakan diferensiasi sehingga membentuk bermacam-macam jaringan yang lebih
kompleks. Perubahan jaringan maristem menjadi jaringan-jaringan lain disebut
deferensiasi. Diferensiasi sel ini membentuk antara lain jaringan epidermis,
parenkim, kolenkim, sklerenkim, xilem dan floem untuk melangsungkan fisiologi
pada tubuh tumbuhan.
BAB III
METODOLOGI
PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
Adapun alat
dan bahan yang digunakan dalam percobaan dari praktikum jaringan pengangkut air
pada cabang bunga alamanda cathartica antara lain.
|
Alat dan
Bahan
|
Jumlah
|
|
·
Cabang tanaman bunga alamanda cathartica
·
Vaselin
·
Aquades
·
Erlenmeyer
·
Tutup gabus atau karet
·
Pisau
·
Waskem
·
Mistar
|
5
1
1
5
5
1
1
1
|
Tabel 1.1 Alat dan Bahan
3.2 Prosedur Percobaan
Adapun
prosedur percobaan dari praktikum jaringan pengangkut air pada cabang tanaman bunga alamanda adalah
sebagai berikut.
1.
Mengamati cabang tanaman bunga alamanda catharica pada
hari ketiga, ketujuh dan kesepuluh.
2.
Apabila air didalam gelas Erlenmeyer berkurang
ditambah air sampai batas semula yang ditentukan.
3.
Pada penambahan air didalam gelas Erlenmeyer dicatat
berapa mili air yang ditambah kedalam gelas Erlenmeyer dan seterusnya pada hari
ketujuh dan kesepuluh.
BAB IV
DATA HASIL PENGAMATAN
4.1 Data Hasi Pengamatan
Dari
percobaan yang telah kami lakukan pada jaringan pengangkut air pada cabang
tanaman alamanda catharica diperoleh data hasil pengamatan sebagai berikut.
|
Perlakuan
|
Hari
ketiga
|
Hari
ketujuh
|
Hari
kesepuluh
|
|||
|
Tan 1
|
Tan 2
|
Tan 1
|
Tan 2
|
Tan 1
|
Tan 2
|
|
|
Xlim
tertutup
|
0
|
|
0
|
|
0
|
|
|
Floem
terbuka
|
|
3 ml
|
|
5 ml
|
|
7 ml
|
|
Xilem
terbuka
|
5 ml
|
|
8 ml
|
|
10 ml
|
|
|
Floem
tertutup
|
|
4 ml
|
|
6 ml
|
|
8 ml
|
|
Kontrol
|
5 ml
|
|
8 ml
|
|
12 ml
|
|
Tabel 1.2 Data hasi Pengamatan
BAB
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari data
hasil pengamatan, serta pembahasan yang telah dilakukan pada percobaan jaringan
pengangkut air pada cabang bunga alamanda cathartica di peroleh kesimpulkan.
Jaringan
pengangkut merupakan jaringan yang tersusun dari sel-sel yang berfungsi mengangkut
unsur- unsur hara dan air yang berda didalam tanah dan disalurkan kebagian
tubuh tanaman melalui jaringan xylem dan floem untuk melangsungkan proses
potosintesis dan fisiologi pada tubuh tanaman. Apabila xylem tertutup maka
tidak ada yang dapat mengangkut unsur-unsur hara dan air yang dibutuhkan oleh tanaman untuk
kelangsungan hidupnya.
5.2 Saran
Mungkin isi
dari laporan tentang jaringan pengangkut air dari praktikum fisiologi tumbuhan
ini masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan untuk itu penulis
mengharapkan agar asisten memberikan keritikan atau pun arahan yang bersifat
membangun dalam melakukan percobaan selanjutnya pada praktikum fisiologi
tumbuhan, begitu juga untuk mahasiswa lainnya yang melakukan praktikum di
laboratorium agronomi.
DAFTAR PUSTAKA
Dra. D.A.. Pratiwi dkk. 2004.
Biologi. Erlangga, Jakarta
Dra. D. A. Pratiwi dkk. 1996.
Biologi SMA. Erlangga, Jakarta
Dr. Eng. Mikrajuddin Abdullah. 2007.
IPA Terpadu. Erlangga, Jakarta
Paprika II______2
BUDIDAYA PAPRIKA 2
PAPRIKA
ASPEK PRODUKSI
PROSES PRODUKSI
1. Persiapan Greenhouse
Persiapan greenhouse meliputi sanitasi dan sterilisasi. Sanitasi dilakukan dengan membuang sisa tanaman yang masih ada didalam greenhouse. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kemungkinan penularan penyakit dan hama yang ada pada sisa tanaman itu.
Foto 4.2.Sterilisasi Greenhouse
Sterilisasi greenhouse dilakukan dengan menggunakan bahan kimia seperti Lysol dan Formalin untuk membunuh bibit penyakit yang dapat menyerang tanaman paprika. Untuk musim tanam berikutnya, dilakukan penggantian plastik mulsa greenhouse yang berfungsi untuk menjaga kelembaban daerah sekitar perakaran tanaman paprika.
2. Pembibitan
Benih paprika sebelum ditanam di dalam greenhouse disemai dahulu agar lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan tanam nanti. Teknis pembibitan paprika adalah sebagai berikut :
- Benih terlebih dahulu direndam dengan air hangat kuku selama 30 menit.
- Media tanam berupa arang sekam atau rockwool dibasahi dengan air bersih dan dipastikan agar media basah sampai merata dan dibiarkan sesaat agar air siraman yang berlebihan menetes.
- Apabila menggunakan media Rockwool, dibuat lubang kecil pada Rockwool dan apabila menggunakan arang sekam dibuat garitan kecil yang saling berpotongan pada sekam dengan jarak + 2 x 2 cm.
- Benih diletakkan satu persatu pada setiap lubang dengan posisi calon lembaga (titik tumbuh) menghadap ke bawah ± 0,5 cm dengan menggunakan pinset, setelah semua benih disemai kemudian tutup dengan plastik mulsa.
- Benih-benih tersebut ditaruh dilemari semai (germnation chamber) dengan suhu optimal 20-25 ºC dan RH 70%-90%. Suhu dan RH dapat diatur dengan cara memasang lampu jika suhu rendah dan jika kelembaban rendah semprotkan air ke dalam lemari semai dengan menggunakan hand sprayer.
- Benih akan berkecambah dalam waktu ± 7 hari, plastik mulsa dibuka kemudian bibit dipindahkan ke tempat yang ada sinar dengan tetap menjaga suhu dan kelembaban.
- Bibit dengan kotiledon tumbuh sempurna, dipindahkan ke polybag 15 x 15 cm yang telah dibasahi dengan larutan nutrisi dengan EC 1,5 mS/cm dan pH 5,5.
- Pemeliharaan di persemaian/pembibitan meliputi penyiraman 1-2 kali sehari (tergantung cuaca, fase pertumbuhan bibit, dan media yang digunakan), pengendalian hama dan penyakit selama di nursery misalnya Trips, Mite, Leaf miner, rebah kecambah dll) dan yang tak kalah pentingnya adalah pengaturan kembali jarak antar tanam agar daun tanaman tidak saling menutupi.
- Bibit siap ditanam ke greenhouse produksi setelah berumur ± 21-30 hari di polybag atau sudah berdaun ± 5 helai.
Foto 4.3. Persemaian Paprika
3. Penanaman
Penanaman dilakukan dengan memindahkan bibit yang telah berumur + 21-30 hari pada media tanam yang lebih besar yang telah disusun di dalam greenhouse. Media yang digunakan untuk penanaman ini adalah arang sekam. Pemindahan tanaman dilakukan dengan cara :
- Bibit diletakkan di sisi polybag untuk penyesuaian cuaca.
- Media tanam disiram sampai basah dengan larutan hara sebanyak 2 liter.
- Regulating stick dicabut dan dikeluarkan dari media.
- Bagian tengah media dilubangi dan tambahkan karbofuram 1 g/polybag.
- Bibit disiram dan dikeluarkan beserta medianya dengan cara membalikkan polybag bibit sambil menyangga bibit dengan tangan.
- Bibit dimasukkan ke lubang tanam, dan media dirapatkan di sekitar batang.
- Regulating stick dipasang kembali.
Foto 4.4. Penanaman Paprika
4. Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman paprika meliputi pemupukan, pengajiran, pemangkasan, penjarangan buah, dan pengendalian hama dan penyakit.
Pemupukan dilakukan bersamaan dengan penyiramaan/irigasi. Pupuk dilarutkan dalam air kemudian ditampung di dalam tangki air untuk irigasi tetes. Frekuensi pemberian pupuk ini tergantung pada kondisi cuaca dan umur tanaman. Pada kondisi cuaca panas, pemberian pupuk dilakukan lebih sering untuk menjaga supaya tanaman tidak layu. Waktu pemberian pupuk dilakukan pada pukul 8:00, 10:00, 12:00, 14:00, dan 16:00 dengan lama tiap pemberian selama 2 menit.
Terdapat 2 sistem irigasi pada hidroponik paprika di Kabupaten Bandung. Sistem irigasi pertama menggunakan metode penyiraman tanaman satu per satu menggunakan selang. Sistem irigasi kedua menggunakan irigasi tetes dimana pada masing-masing polybag tanaman dipasang pipa kecil yang terhubung dengan tangki penyimpanan air. Dengan irigasi tetes penyiraman tanaman dilakukan sekaligus pada seluruh tanaman pada waktu yang bersamaan. Skema irigasi tetes dapat dilihat pada Gambar 4.2.
Pada tanaman yang masih muda larutan pupuk diberikan sebanyak 0,5 liter per pohon dan pada tanaman dewasa diberikan sebanyak 1,2 liter per pohon. Salah satu sistem irigasi yang digunakan petani paprika di Kabupaten Bandung menggunakan sistem irigasi tetes. Pada sistem irigasi tetes ini, selain seluruh polybag tanaman mendapat penyiraman yang bersamaan, volume penyiraman lebih terkontrol sehingga lebih efisien dalam hal waktu dan volume penyiraman.
Gambar 4.2. Skema Irigasi Tetes pada Sistem Hidroponik
Foto 4.5. Pengajiran
Pengajiran dilakukan dengan melilitkan benang pada tanaman paprika untuk menopang tanaman paprika. Dengan penopangan tanaman akan diperoleh bentuk tanaman yang sesuai dengan kegiatan produksi secara maksimal, terutama dalam efisiensi lahan. Pengajiran dilakukan pada tanaman yang berumur 2 minggu setelah tanam.
Pemangkasan dilakukan untuk membentuk tanaman sehingga pertumbuhan dan produksi tanaman maksimal. Pemangkasan ini meliputi pemangkasan cabang dan tunas (pewiwilan), pemangkasan daun dan pemangkasan bunga.
- Pemangkasan cabang dan tunas dilakukan dengan mengatur dan mengurangi cabang dan tunas di ketiak daun sehingga hanya ada 2 cabang utama. Pemangkasan ini dilakukan sampai bunga yang dipelihara tumbuh dan mekar.
- Pemangkasan daun dilakukan dengan membuang semua daun pada batang utama, daun yang tua dan sakit serta daun yang terlalu rimbun.
- Pemangkasan bunga dilakukan sampai tanaman berusia 4 minggu setelah tanam. Bunga yang muncul sebelum 4 minggu setelah tanam dibuang. Dari satu ketiak daun sebaiknya hanya dipelihara 1 bunga agar buah yang dihasilkan besar dan berkualitas.
Gambar 4.3. Tanaman Paprika Hasil Pemangkasan
Foto 4.6. Pemeliharaan Paprika
Salah satu kendala dalam pertanian yang menggunakan sistem monokultur adalah penyebaran penyakit dan hama yang sangat cepat jika tidak segera ditangani. Untuk mencegah penyebaran penyakit dan hama, dilakukan tindakan seperti pengamatan dini pada serangan hama dan penyakit, membuang dan membakar tanaman yang terkena serangan dan penyemprotan pestisida.
5. Pemanenan
Dalam pemanenan perlu diperhatikan beberapa hal seperti waktu dan cara pemanenan. Berdasarkan waktu, pemanenan dibagi menjadi 2, yaitu panen buah matang hijau dan panen buah matang berwarna (merah, kuning, orange).
Penggolongan ini disesuaikan dengan permintaan pasar dan harga jual. Pada saat pemetikan harus diusahakan agar tidak merusak ranting atau tanaman yang masih muda. Buah paprika sebaiknya dipanen beserta tangkai buahnya dengan menggunakan gunting atau pisau tajam. Diusahakan agar tangkai buah tidak terlepas dari buah atau tertinggal di cabang tanaman karena buah akan mudah terserang patogen.
Foto 4.7. Pemanenan Paprika
6. Pascapanen
Pada tahap pascapanen, buah paprika yang telah dipanen dicuci. Pencucian ini bertujuan untuk menghilangkan kotoran dan sisa pestisida yang ada pada buah paprika. Selain itu, pencucian ini juga bertujuan untuk menurunkan panas lapang buah sehingga transpirasi buah menurun. Setelah dilakukan pencucian, buah paprika kemudian disortasi dan digrading.
Tanaman Paparika (4)
Maret 13, 2008 · Tidak ada Komentar
Di Indonesia, tanaman paprika mulai dibudidayakan pada sekitar tahun 1990-an dan dewasa ini Propinsi Jawa Barat merupakan salah satu pusat pertanaman paprika di Indonesia (Prabaningrum et al. 2002). Tanaman paprika tersebut dibudidayakan di dalam rumah plastik (rumah kasa). Ada sebelas varietas paprika yang dibudidayakan oleh petani tetapi hanya dua varietas yang paling dominan yaitu Spartacus dan Edison yaitu sebesar 82%. Kedua varietas paprika ini banyak dibudidayakan oleh petani karena pertumbuhan dan hasilnya yang baik, disamping itu bentuk dan ukuran buah dari kedua varietas paprika tersebut mudah untuk dijual di pasr lokal maupun ekspor. Kisaran daya hasil kedua varietas paprika tersebut adalah 1,5-3 kg per tanaman.
Dari hasil survei yang dilaksanakan oleh Gunadi et al. (2003) diketahui bahwa pada umumnya petani responden menggunakan populasi tiga tanaman per meter persegi (59%), tetapi beberapa petani responden mencoba menanam lebih tanaman per meter persegi yaitu empat tanaman per meter persegi (41%). Efisiensi penggunaan pestisida dan nutrisi merupakan alasan petani responden untuk menanam lebih dari banyak tanaman per meter persegi. Hasil survei juga menunjukkan bahwa dari keseluruhan total biaya produksi tanaman paprika, ternyata alokasi biaya untuk nutrisi mendominasi biaya produksi secara keseluruhan. Biaya untuk nutrisi adalah 35,2% dari biaya total produksi secara keseluruhan, diikuti oleh biaya tenaga kerja yaitu sebesar 25% dari biaya total produksi secara keseluruhan. Biaya untuk pestisida, benih atau bibit dan media tanam berturut-turut hanya sebesar 20,5, 10,6 dan 8,6 % dari biaya total produksi secara keseluruhan.
Hasil tanaman paprika di negara Belanda dapat mencapi 25-30 kg per meter persegi dengan periode pertumbuhan selama 12 bulan (Gunadi 2006). Di Indonesia hasil tanaman paprika yang dapat dicapai di Balai Penelitian Tanaman Sayuran adalah 8-9 kg per meter persegi dengan periode pertumbuhan selma 7 bulan (Gunadi et al.2005). Hasil paprika di Indonesia yang relatif masih rendah masih dapat ditingkatkan kembali dengan teknik budidaya yang sesuai dengan kondisi tropis di Indonesia.
Tanaman Paprika (3)
Maret 13, 2008 · Tidak ada Komentar
Produksi tanaman paprika di Belanda dari tahun ke tahun terus meningkat. Demikian pula, keuntungan bersih yang diperoleh dari penanaman paprika di Belanda terus meningkat yang disebabkan oleh harga komoditas paprika yang terus menerus meningkat pula.
Komoditas paprika pada umumnya dibedakan menurut bentuk, warna dan ukuran. Pada umumnya bentuk paprika dibagi menjadi dua bentuk, yaitu dengan dua bentuk blok (blocky) atau lonceng (bell) dan yang berbentuk lonjong (lamujo) (Hadinata 2004).
Dari segi warna, paprika dibedakan menurut empat warna utama yaitu merah, hijau, kuning, dan orange. Selain dari bentuk dan warna,
harga jual buah paprika ditentukan pula oleh ukuran buah. Pada umumnya ukuran buah dibedakan menjadi empat katagori yaitu (Hadianata 204):
1. Kecil, diameter buah 6,5-8 cm, bobot buah 120-160 gram.
2. Sedang, diameter buah 7,5-9,5 cm, bobot buah 160-200 gram.
3. Besar, daimeter buah 9-11 cm, bobot buah 200-250 gram.
4. Sangat besar, diameter buah >11 cm, bobot buah >250 gram.
1. Kecil, diameter buah 6,5-8 cm, bobot buah 120-160 gram.
2. Sedang, diameter buah 7,5-9,5 cm, bobot buah 160-200 gram.
3. Besar, daimeter buah 9-11 cm, bobot buah 200-250 gram.
4. Sangat besar, diameter buah >11 cm, bobot buah >250 gram.
Tanaman Paprika (2)
Pada umumnya, tanaman paprika yang dibudidayakan di bawah naungan (protected cultivation) menggunkan kultivar indeterminate dimana tanaman secara bertahap dan terus menerus tumbuh dan berkembang membentuk daun, batang, bunga dan buah yang baru. Sebagai perbandingan, kultivar paprika yang dibudidayakan di lahan terbuka (open field) adalah kultivar determinate dimana tanaman tumbuh sampai mencapai ukuran tertentu, kemudian menghasilkan buah,lalu tumbuh dan akhirnya tanaman mati. Pada saat ini, budidaya tanaman paprika di lahan terbuka dengan menggunakan kultivar determinate tidak berkembang seperti budidaya tanaman paprika di bawah naungan yang menggunkan kultivar inderteminate.
Kultivar indeterminate memerlukan pemangkasan (pruning) untuk mempertahankan pertumbuhannya. Dalam rangka untuk mengoptimalkan hasil tanaman paprika pada budidaya tanaman paprika dibawah naungan, keseimbangan antara pertumbuhan vegetatif (daun dan batang) dan generatif (bunga dan buah) harus dipelihara dan diperahankan (Alberta 2004).
Tanaman Paprika (1)
Pada saat ini, tanaman paprika (Capsicum annuum var. grossum L.) merupakan salah satu komoditas penting yang dibudidayakan dibawah naungan (protected cultivation). Tanaman paprika berasal dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan dimana banyak spesies telah dibudidayakan beratus tahun sebelum Coloumbus mendarat di benua tersebut (Alberta 2004; Wein 1997). Penanaman paprika menyebar ke Eropa dan Asia setelah tahun 1500-an. Pada awal penyebaran di Eropa, tanaman paprika dibudidayakan dilahan terbuka (out dor) (Van Winden 1988). Walaupun termasuk tanaman tahunan, paprika dibudidayakan sebagai tanaman setahun didaerah beriklim temperata, tetapi di daerah tropis tanaman tersebut kemungkinan akan tumbuh dan memberikan hasil selama lebih dari beberapa tahun Wien 1997).
Dalam klasifikasi tumbuhan, paprika dimasukkan ke dalam famili Solanaceae. Daunnya berukuran lebar dan berwarna hijau tua. Bentuk buah paprika mirip lonceng, sehingga dinamakan bell pepper. Meskipun aroma buah paprika pedas menusuk, namun rasanya tidak pedas, bahkan cenderung manis, sehingga disebut sweet pepper. Paprika membutuhkan kondisi tertentu untuk pertumbuhannya, yaitu suhu 24-30 celcius pada siang hari dan 9-12 celcius pada malam hari. Meskipun demikian, tanaman itu masih dapt bertahan pada suhu 38 celcius (Hartz 2002). Di Indonesia, tanaman itu cocok ditanam pada dataran tinggi yang bersuhu 16-25 celcius (Prihmantoro dan Indriani 2000).
Buah paprika mengandung sedikkit, protein, lemak dan gula, tatapi mengandung banyak karoten dan sebagai sumber vitamin C (sampai 340 mg/100 g buah segar). Jika dibandingkan dengan buah jeruk yang mengandung vitamin C sekitar 146 mg/100 g, maka kandungan vitamin C pada paprka jauh lebih tinggi daripada buah jeruk (Morgan dan Lennard 2000). Pada umumnya paprika digunakan sebagai bumbu penyedap atau bahan masakan, selain itu juga digunakan sebagai zat pewarna makanan. Antosianin yang terkandung dalam paprika merupakan zat pewarna makanan yang memiliki keunggulan dibandingkan dengan pewarna makanan yang berasal dari sumber lain, yaitu lebih tahan suhu tinggi dan stabil pada kisaran PH lebar yaitu 1 sampai 9 (Hartuti 2004).
Prolog Tanaman Paprika
Di Indonesia, tanaman paprika mulai dibudidayakan sejak tahun 1990-an. Pada awalnya pengembangannya paprika ditanam di lahan terbuka, tatapi kini telah dikembangkan secara hidroponik di rumah kasa atau plastik. Produksi buah paprika selain untuk memenuhi pasar dalam negeri (hotel berbintang, pasar swalayan, rumah makan internasional, pasr tradisional, dll.) juga untuk memenuhi pasar ekspor.Paprika adalah salah satu komoditas sayuran yang memiliki nilai ekonomi tinggi, yang sebagian besar hasil panennya diekspor ke luar negeri.
Langganan:
Postingan (Atom)